Senin, 01 Juli 2013

-Akibat Dendam Demit Penunggu Pekarangan-

-Akibat Dendam Demit Penunggu Pekarangan-



Kejadian ini dialami keluarga Rohman (31)
warga Sampangan Semarang. Gara-gara
membuang air panas sembarangan anak
Rohman tertimpa bencana. Begitu air
seember dibuang ke pekarangan belakang
rumah, mendadak anak laki satu-satunya
yang masih berumur 5 tahun menjerit-jerit
kelojotan.
Rohman menyaksikan keganjilan itu tidak
habis pikir. Dedy, anak laki-lakinya itu
meronta-ronta kepanasan. Padahal, sedikit
pun tidak terlihat bekas luka mendera di
tubuhnya. Dari sore hingga esok harinya,
tangisnya tidak pernah berhenti. Tentu bikin
kelimpungan Rohman dan istrinya. Berbagai
bujuk rayu dilakukan, tapi semuanya seperti
sia-sia. Bahkan, pagi itu kondisi Dedy makin
mememburuk.
Kejadian ini dialami, sore itu ketika saat
magrib tiba, Rohman membuang air panas
bekas rebusan jagung di belakang rumahnya.
Usai membuang di pekarangan yang tidak
dirawat hingga tumbuh semak-semak liar itu,
ia pun berangkat ke masjid yang berada tidak
jauh dari rumahnya. Magrib itu Rohman
melakukan salat berjamaah.
Namun, begitu dia turun dari masjid
beberapa tetangga menjemputnya. Dia
mendapatkan berita tidak baik. Anaknya
tanpa sebab yang pasti tiba-tiba meronta
tidak karuan. Persis seperti cacing yang
kepanasan. “Aduh..panas…pa
naaassssssss…,” teriak anaknya itu.
mendapat penderitaan si anak, ia lantas
memanggil beberapa keluarganya untuk ikut
menentramkan Dedy.
Tapi, lagi-lagi upaya yang ditempuh tidak
membuahkan hasil. Sampai pagi hari segala
upaya untuk menenangkan Dedy tidak ada
hasil. Baru siang harinya ada kerabat yang
mengusulkan agar dicarikan pengobatan
alternatif ke orang pintar. Melihat kejadiannya
yang tanpa sebab, keluarga Rohman percaya
jika penyakit Dedy tidak wajar.
Dugaan itu ternyata benar. Paranormal yang
didatangi Rohman mengatakan, jika anak
balitanya mendapat penyakit akibat amarah
dedemit. Konon, saat Rohman membuang air
panas di semak-semak belakang rumah, ada
makhluk halus yang sedang bermain-main.
Akibatnya, sekujur tubuh dedemit melepuh
dan kelojotan tidak karuan. Sama persis
seperti yang dialami Dedy.
Sakit akibat pembalasan si demit ternyata
tidak juga dilepas, sebelum Rohman
menyadari kekhilafannya dan meminta maaf
pada lelembut yang tinggal di belakang
rumahnya itu. “Iya Ki… saya memang salah.
Air panas itu seharusnya saya buang ke
kamar mandi. Bukan di tempat sembarangan.
Saya sanggup meminta maaf,” ujar Rohman
mengakui kesalahannya pada orang pintar
itu.
Meski Rohman bersedia meminta maaf tapi
pernyataan dia tidak cuma diungkapkan
lewat batin dan kata-kata. Berdasarkan hasil
interaksi orang pinter dan si demit, ungkapan
minta maaf itu harus dibarengi dengan
pemberian sesaji yang diletakan di belakang
rumahnya. Oleh si Mbah Dukun itu diputuskan
sesaji yang diminta demit akan diberikan
asalkan tidak berupa tumbal nyawa manusia.
Sesuai dengan permintaan yang diminta,
Rohman menyediakan sesaji berupa
kembang telon, bakaran menyan, telur ayam
kampung, dan umbarambe lainnya. Ternyata
benar, setelah seluruh prosesi permintaan
maaf sudah dipenuhi, tidak lebih 5 menit
penyakit yang diderita Dedy tiba-tiba hilang
dengan sendirinya.
Selebihnya Rohman kepada demit minta agar
tidak menggunakan perkarangan sebagai
tempat tinggal. Untung saja si demit cukup
baik hati, di dengan serta merta mau
meninggalkan pekarangan rumah Rohman
asalkan, semak belukar yang tumbuh liar di
pekarangan itu dibersihkan. Kata si demit,
tempat yang tidak terawat dan banyak semak
belukar cukup menggiurkan dirinya untuk
mendiaminya.
Sadar dengan kesalahan yang nyaris
membuat celaka anak semata wayangnya,
ingatan Rohman ketika itu langsung tertuju
pada petuah-petuah yang pernah dia terima
dari orang tua dulu. Kakek dan nenek
Rohman dulu, selalu mengingatkan jangan
sembarang membuang sesuatu pada saat
magrib. Kabarnya pada waktu menjelang
malam itu, para dedemit pada keluar dari
sarangnya untuk mencari makan.
Nah, sepertinya si demit penunggu
pekarangan belakang rumah Rohman
bermaksud keluar sarang untuk mencari
makan. Sialnya, bukan makanan empuk yang
bisa dia santap, melainkan air panas yang
mengguyur sekujur tubuhnya yang mungil.
Karena merasa kepanasan dan bercampur
jengkel, dia murka dengan langsung
menurunkan kutukan pada anak Rohman.

"Ambil nilai positif aja ya mberr,tapi admin kagak setuju kepada pak rohman yang memberikan sesajen karna musyrik,benar gak mberr:D"

1 komentar:

 
Copyright © . kisah cerita blog - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger